Jumat, 18 Oktober 2013


Modifikasi Suzuki Satria FU Drag Bike (Dwi Batank), Volumetrik 200 cc, Time 7.5 Detik


ManiakMotor – DOHC (double over heat camshaft) pada Suzuki Satria F150 yang lebih tenar FU kelebihannya mudah untuk dapat efisiensi volumetrik. Dengan dua noken-as atau camshaftnya, ada empat lubang yang disumpal katup klep pada  kepala silinder.  Dua masuk dan dua buang. Sirkulasi bahan bakar isap dan dan lepas mendekati kapasitas, itu disebut efesiensi volumetrik, brosist. Jarang yang mendekati 80 persen efesiensinya. Salah satu penentunya inlet dan outlet, iya! Tapi masih banyak yang lain seperti pengapian, karbu dan setting seperti Satria FU Solo yang mengagetkan di Drag Bike 201 meter baru lalu. 
195 CC
Volumetrik sengaja atau tidak, itu yang dilacak brother mekanik balap yang menggunakan motor bakar, bukan karung. Membesarkan kapasitas diiringi korek ini dan itu, sama dengan mengisi volumetrik. Seperti pengorek FU Solo dipacu Dwi Batank (Abakura Ditra Jaya) yang melumat FU Kontroversi dan Jupiter Z Pele di Tegal, Jateng ini.
Juga kembali duuuk... menyepak keduanya di Pertamina Drag Bike Banjar Patroman, Jawa Barat, 1 – 2 Desember 2012. “Model yang saya pakai adalah overbore, untuk rpm. Bila Batank jokinya, dia bisa kontrol tenaga 31 dk saat di dyno,” kata Wawan Kristianto, tuner FU dari Solo, Jateng yang telah mencetak dua kali 7.5 detik atau lebih cepat dari FU Kontroversi yang 7.6 detik. Itu didapatnya di Demak, bulan lalu.  
Silinder diisi piston LHK 70 mm yang dipegang pin piston 15 mm. Diameter piston itu diikuti  sumur silinder yang aslinya 62 mm. Stroke atau langkah torak dinaikkan 2 mm  yang standarnya 48,8 mm. Dengan menghitung isi silinder, hasilnya 195 cc. Persis kelas yang diikutinya bebek tune-up s/d 200 cc. Masih kurang 5 cc sebenarnya.  
Tetapi bukan itu yang dihitung. Membengkaknya kapasitas, permintaan ruang bakar juga berubah. Seperti di atas tadi, FU lebih mudah karena ada empat lubang pada pale silindernya. Hitung, setiap lubang in misalnya diameternya mengikuti klep KLX250 yang dipakai. Andai klep KLX diameternya 25 mm, total lubang masuk FU Solo ini 50 mm.
Badingkan dengan SOHC (single over head camshaft), menggiring lubang masuk jadi 33 mm saja sangat riskan. Harus tambal sulam dengan las aluminium memermak sudut-sudut klep-nya. Salah dikit, kepala silindernya masih untung akan dibeli tukang loak. 
Dengan diameter lubang masuk 50 mm pelayanan kapasitas 195 cc akan bisa didekati. Itu yang kata orang efesiensi volumteriknya-nya mendekati 80%. Maksudnya, bahan bakar yang harus terbakar di ruang bakar seharusnya 156 cc. Angka ini 80% dari 195 cc. Ini pun kudu dilepas dengan bersih. Makanya, ini FU juga pakai dua klep KLX pada lubang buang. Untuk lebih jelasnya silakan lacak diameter klep KLX.
KARBU PWK 33
J
angan dikira 156 cc alias efesiensi 80 persen akan didapat dengan hanya menaikkan kapasitas dan mengorek semua lubang pernafasan. Belum, coy and boy dan amoy! Lho, brosist ke mana? Pengiriman bahan bakar juga baru bagian dari pelayanan volumetrik. “Saya pakai karburator PWK 33 mm. Ini sudah imbang dengan lubang-lubang pada head,” cocor Wawan yang tetap ‘dikit-dikit’ membelokkan data modifikasinya. Tidak apa-apa itu dapurnya. Rahasia juga bisa. Tinggal kemampuan portal ini mengolahnya dan semoga bermanfaat buat sampeyan. Saat dapat  07.565 detik di Tegal, karbu ini disetting dengan main-jet 135 dan pilot-jet 48. Sengaja ini ditulis, agar yang disebut efesiensi volumetrik bisa didapat. Mana bisa tanpa setting akan bersih ruang bakarnya.  Sebenarnya saat lomba di Tegal, juga mengubah gigi rasio 4. Nah ini ada di BERITA TERKAIT.  
Belum lagi cerita kem. Soal angka-angka derajatnya lihat Data Modifikasi. Penentuannya bukan soal angka derajat terhadap kem. Tetapi menyamakan ukuran kedua kem wajib sama. Bila tidak, jokinya sembari balap tertawa sendiri dari balik helm, kecikikan. Begitu mau finish makin wakakak, saking gelinya akibat getaran yang berlebihan. Maklum manual teknologi dengan modal gerinda.  Weeeeeeng.... itu suara gerinda.
Inti volumetrik itu, “Mengubah bahan bakar jadi energi. Semakin bersih atau tuntas pembakarannya, itu yang kita kenal sebagai power.  Derajat kem, kompresi dan pengapian bagian untuk mendekati velumetrik. Vulometrik itu hanya ukuran cc, mm dan kg yang barhasil dibakar. Tapi sangat jarang yang dapat 80%, kecuali seperti di MotoGP yang material metalnya titanium dan komputerisasi semua,” timpal Om Gandhoel atau Sri Hartanto soal volumetrik. Mekanik senior itu yang bicara karena FU Solo ini pakai pengapian GRM, produknya dia.
Hahaha... promosi nih. Berarti FU belum 80 persen dong? Walah bisa lebih kencang lagi tuh. Ardel   
MODIFIKASI LAIN:
Data Modifikasi :
Data Modifikasi :   
Motor : Suzuki Satria FU 150 2004
Kelas : Bebek Tune Up s/d 200 cc
Pembalap : Dwi Batank
Kompresi  : 13,3 : 1
Volume head (buret) : 15,8 cc
Piston  : LHK 7.0 Dome 0,3
Timing pengapian  : 36°
LSA  : 105
Durasi Kem : 270° in, ex
Klep : KLX 250
Per klep : Jepang
Diameter in-let  : 32 mm (bulat)
Diameter out-let  : 30 mm (bulat)
Karbu : PWK 33
Manifold : Akal-akalan
Busi : NGK Platinum
Kruk as  : Standart
Pompa oli  : Standrat
Kopling  : Standart
Rasio  
gigi-1 : 14/31
Gigi-2 : 15/25
Gigi-3 : 19/24
Gigi-4 : STD
Gigi-5 : STD
CDI dan kurva-nya : Rextor GRM
Kenalpot  : MCC
Sokbreker depan  : Yamaha Mio
Sokbreker belakang  : YSS ninja KRR
Cakram depan : Standart
Rem belakang : Honda Karisma
Ban depan/belakang :  Depan FDR belakang IRC Eat My Dust
Pelek depan/belakang :  Exxel Takasogo 
Gir/sproket/rantai : SSS/14-35 






































































Drag Bike Tegal, FU Solo Merontokkan FU Kontroversi Dan Jupiter Z Pele

 
ManiakMotor-  Gigi 4 Satria FU150 korekkan Wawan Kristiarto dari Solo masih terasa berat. Itu atas laporan  Dwi Batang yang memacunya di babak penyisihan bebek tune-up s/d 200 cc. Walau telah mencetak 07.757 detik penyisihan di event Final Battle Cargloss AHRS Drag Bike (FBCADB) di  Jalan Lingkar Utara (Jalingkut), Tegal, Jawa Tengah, 25 November 2012, FU ini pun direvisi ulang gigi rasionya mengahadapi final. Hasilnya, mengubur ambisi FU Kontroversi dan Jupiter Pele yang sebelumnya dijagokan.
Penyisihan, perbandingan rasio percepatan 4 pakai 21/23 (0,913). Tapi motor masih terasa nahan, karena rpm saat pindah gigi dari tiga ke-4  masih menukik. Kurang nyambung.  Makanya, “Aku  standarkan ulang jadi  21/22 (0,954) atau lebih ringan 0,041 dalam pembagian gigi 4,” bilang Wawan yang berbendera Abukura Ditra Jaya itu.
Bukan hanya mempertahankan keunggulan penyisihan. Di final malah pertajam catatan sebelumnya 07.757 detik jadi 07.521 detik. Wow, itu berarti melibas, bas, bas (pakai echo brosist)  catatan FU Kontroversi 7.604 detik yang dicetak di Demak atas nama Hendra Kecil.  Bahkan joki yang lain Taufik Omponk (Jogja) yang sebenarnya tidak ompok itu, dengan motor sama podium kedua. Namun selisih waktunya 0,2 detik dengan Dwi Batank yang memang batangan alias laki and pejantan.
Pada tulisan sebelumnya,   pemampatan ruang bakar FU ini seperti ala 4-tak korekan ekstrem. Perbandingan kompresinya  13,3:1. Akan tetapi, power didongkrak dengan memboroskan bahan bakar lewat pembekakan kapasitas jadi 195 cc. Angka itu didapat dari diameter silinder 62 mm  (standar) dan langkah torak  50,8 mm yang standarnya 48,8 mm.  
Tapi ini nggak mungkin. Silakan cari dengan rumus kapasitas, hasilnya cuma 155 cc. Tapi biarlah itu rahasia dapurnya Wawan. Tapi Wawan lupa sedang diwawan. Maksudnya sedang diwawancara wartawan asli yang bukan palsu dari maniakmotor.com. Di terpancing sebut pakai LHK 70 mm. Nah itu yang membuat diameter silinder tidak mungkin standar atau 62 mm, tetapi 70 mm sama dengan piston LHK. Hasil kapasitasnya memang 195 cc.
Wawan juga bilang, durasi kem 270° tapi diukur dari in.  Rata-rata kem diukur antara in dan ex, di mana buang lebih kecil derajatnya. Melayani tonjokan kem yang lebih lama dan lift lebih tinggi terhadap sepatu klep (rocker arm), klep diambil dari KLX250. Itu klep pasti diameternya besar.  Besarnya seberapa nanti dilacak dulu di pabrikan Kawasaki.  Sebab, Wawan diam seribu kata soal diameter. Waduh, puyeng... “Cuma timing pengapian 36° dan dipompa karbu PWK 33,”sebut Wawan yang sudah uji dyno ketemu di 31,7 dk.  
Katanya, tenaga sgitu masih tergolong kecil dibanding rival. Ya, iya, tapi efisien penyeluran tenaganya ketimbang yang lebih besar dk-nya, tapi ngepot-ngepot saat start. Hayo mau pilih yang mana? “Saya pilih yang speksifikasi seperti saat ini. Tenaganya pas, top speednya dapat,” jelas Batank.
Makanya  FU ‘Kontroversi’ JBX dan Jupie Pele, justru gugurnya pada kelebihan tenaga. “Jujur dengan spek baru seperti kompresi yang naik jadi 13,5 : 1 yang sebelumnya 13,4:1 dan LSA lebih sempit , justru jadi kendala .  Motor jadi overpower, sulit dikendalkan. Roda belakang ngesot sampai menabrak pembatas trek,sebut Jhon Pells selaku joki Jupie yang catatan waktunya melorot dibanding babak penyisihan dengan 07.765 detik jadi 08.012 detik di final. Jhon pun terlempar dari lima besar. Gak papa, lain kali lawan lagi. Wkwkwk…
Sedang FU JBX hanya mampu podium ketiga dengan joki  Eko Chodox Semarang  di 07.755 detik. Pada babak penyisihan JBX akui ada masalah dengan mesin, sehingga tiga jokainya diminta main aman, “Ya, aku salah prediksi cuaca, dugaan awal mulai penyisihan  akan hujan. Makanya spuyer diubah dari 135/50 jadi 132/45, ditambah lagi buru-buru ganti piston, akibat terlalu kering setting karbu dipenyishan. Memang meski tak podium pertama, tapi catatan waktu di final bisa lebih tajam,” kilah Chodox yang diaminin JBX dan keduanya dengan sportif mengakui FU Solo lebih cepat kali ini.
Kesimpulannya, FU dengan mesin tegak dan DOHC masih unggul di kelas ini, Jupie belum berhasil menumpasnya! Wadow..Ardel

Modifikasi Suzuki Satria FU150 Drag Bike: 7,745 Detik OMR FU 155, Kem Standar

 
ManiakMotor Camshaft alias kem atau noken-as bawaan Suzuki FU yang durasinya diutak-atik dengan las dan gerinda. Dua kem dari basis FU yang DOHC (Double Over Head Camshaft), dagingnya dianggap alot. Durasi, lift sampai LSA tidak mudah berubah untuk sekadar ikut one make race FU di arena drag bike.
Kem FU standar lebih bandel walau coating atau lapisan metalurgi pada hardenersnya telah terkikis atau hilang dimakan gerinda dan panas las.  “Penambalan  bagian pinggang dan pantat kem juga cuma sedikit, tidak mengubah struktur kekuatan kem. Ausnya kem lama otomatis performanya juga panjang,”  kata Eko Wahyudi yang akrab disapa Penglenk juru korek FU milik tim SPRW San Carlos PS yang langganan podium OMR FU 155. Tim ini bermarkas di Boyolali, Jawa Tengah.
Eko hanya menambal bagian pinggang dan pantat kedua kem 1,5 mm. Ini untuk memanipulasi angkatan dan durarasi kem lebih lama dan tinggi menonjok rocker arm. Sebenarnya dengan yang disebut Eko, durasi kem masih rendah dengan membuka 25o sebelum TMA dan tertutup 35o sesudah TMA. Ya, tinggal dijumlahkan kedua angka ini dan ditambah lagi dengan siklus proses pembakaran yang 180o. Biarlah itu rahasia Eko, walau dia bilang 270o. Kan istilah di bengkel, racikan adalah dapur ngebul.
  Get Adobe Flash player
Tidak mengabaikan komponen lain, tambal-sulam kikis dan papas kem ini, best time bisa 7.745 detik. Motor ini kerap dipacu AP Monyonk yang dari wajahnya nggak monyong-monyong mat sih, cuma sedikit. “Keuntungan lain pakai kem standar, lebih mudah disesuaikan dengan komponen yang kebanyakan standar. Kan ikut OMR, klep saja standar,” tambah Eko pada kem seharga Rp 500 ribu sepasang.
Rumah kopling
Dalam riset tersebut sudah ada tiga pasang kem yang dihancurkan. Maksudnya gagal menentukkan lift, durasi, LSA sampai rapinya pengerjaan. Itulah yang disebut riset. Riset di balap wajib hukumnya, kan gagal dulu baru berhasil. Letak kegagalan terutama menentukan tambalan dan LSA yang didapat dari 30 persen diameter payung klep standar FU. Silakan lihat data modifikasi, jangan baca melulu, bisa rusak tuh mata.
Hitungan noken-as pengaruhnya pada kompresi. Dicari-cari dan dicoba-coba yang juga bagian dari riset, kompresi 13,5:1. Kalau ini benar dengan volume ruang bakar 12.2 cc. Memang dihitung dengan rumus kompresi sebenarnya 13.47 sekian-sekian, ya dibulatkan saja jadi 13.5. Angka itu sesuai kelas yang diikuti.
Tidak serta merta hanya dengan cerita sudah terjadi kompresi seperti angka di atas. Namun langkah-langkah pertukungan mesinnya harus bolak balik ke tukang bubut. Lihat saja, kepala silinder saja dipapas 2 mm. Tentu itu harus mengatur ulang ruang bakar. Apalagi regulasinya harus pakai  piston standar 62 mm. Regulasi sih maksimal 155 cc, sekarang baru 152 cc.  
Oce, mantap habis. Eit belum selesai, dari paparan ini, jurus OMR ini cocoknya buat korek harian. Nah lihat saja data di bawah. Ardel


Data modifikasi ;  
Motor : Suzuki Satria FU 150 2009
Pembalap : AP Monyonk
Kelas : OMR FU 155 cc
Ban depan : IRC Eat My Dust 45/90-17
Ban belakang : IRC Eat My Dust 60/80-17
Pelek depan-belakang : TDR 
Sok depan :standart
Sok belakang :Kitaco
Gir :SSS (12/43)
Karburator :PJ 34
Pilot ; 55
Main Jet : 120
Cakram depan : TDR
Kopling : Suzuki TS
Per Kopling : Suzuki Smash
Knalpot : AHM
LSA : 102
Diameter inlet ; 29
Diameter outlet : 28
Lift in-out : 7.2 mm dan 7 mm
CDI  : Rextor Pro Drag itu
Timing pengapian : 44 (8000 RPM)
Magnet Pengapian  : Standar
Mekanik : Eko Wahyudi
Alamat Bengkel : Boyolali, Sawit Jateng
HP : 081329081071
 

Suzuki Satria FU150, Seting Kem Standar Jadi Juara OMR Satria!


Utamakan seting kem standar, itu salah satu trik jitu tim Abakura Bungakarya di Suzuki Satria FU150 agar melesat kencang di Pertamina Enduro Comet K Factory KYT Dragbike Day Battle 201 M Championship. Pacuan ini bertarung di kelas One Make Race (OMR) Suzuki Satria FU s/d 155 cc yang diadakan di Tasikmalaya, Jawa Barat beberapa minggu lalu.

Development kem yang dilakukan tim Abakura Bungakarya, bisa mengantarkan joki Dwi Batank asal Semarang, Jawa Tengah melesat tercepat di kelasnya. Dalam official result, bisa tembus 8,075 detik di trek panjang 201 meter.

“Sebenernya simpel saja, untuk kelas OMR Suzuki Satria FU s/d 155 cc durasi kem diretouch. Dibikin enggak terlalu gemuk layaknya ibu-ibu hamil 9 bulan. Buat in, main di 262 derajat dan ex 261 derajat,” bilang Wawan Kristiarto, mekanik bengkel Abakura yang ada di Jl. Solo-Semarang KM. 3, Solo, Jawa Tengah.

Hitungannya, klep in membuka 22 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 60 setelah TMB (Titik Mati Atas). Sedangkan, ex membuka 60 derajat sebelum TMB dan menutup 21 derajat setelah TMA. Durasi segitu untuk mengawal klep in 22 mm dan ex 19 mm yang masih standar.

“Paling cocok untuk kelas 155 cc ya durasinya memang segitu. Bila terlalu gede, motor terlampau panjang nafasnya. Kurang bagus juga,” kata Wawan.

Penggunaan kem tadi, didukung maksimalisasi di bagian isi silinder. Kalau enggak didukung dan dimaksimalkan, enggak akan bisa melesat kenceng donk.

Untuk penggebuk kompresi, piston aplikasi kepunyaan Kawasaki Ninja 250R, diameter 62 mm yang pinggirnya dibikin mendem 0,9 mm dari bibir silinder. Dengan karakter piston yang lebih jenong, kompresi bisa lebih padet. Rasio kompresi mesin jadi 13,2 : 1.

Isi silinder masih pertahankan 150 cc. Padahal regulasi masih bisa sampai 155 cc. Di bagian pencampuran bahan bakar, Satria FU150 ini pakai karburator Keihin PJ 35 yang dijejali main-jet 120 dan pilot-jet 48.

Untuk meringankan putaran engine, di bagian magnet cangkok kepunyaan Yamaha YZ250. “Dengan aplikasi magnet YZ250, putaran kruk as bisa diringankan. Plusnya, motor bisa lebih cepet naik dan bikin torsi jadi galak,” tambahnya.

Soal rasio gearbox, juga ikut disesuaikan. Gigi I, 14/32 mata. Gigi II, 15/25 mata. Gigi III, 19/24 mata. Gigi IV, standar. Gigi V, 22/21 mata. Dan terakhir gigi VI, 24/20. Sedangkan di final gear, aplikasi 12/42 mata.

Gazz poll, cuy!.

DATA MODIFIKASI
Knalpot: DBS
Sokbreker belakang: YSS
CDI: Rextor Prodrag
Ban depan: IRC 60/80-17
Ban belakang: FDR AX 50/90-17